blog accounting
05 April, 2015
05 Mei, 2011
CRITICAL REVIEW, TUGAS KULIAH SAYA
Summary :
1. Motivasi Penelitian :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah persepsi tentang keadilan dalam proses penganggaran mampu memperbaiki kinerja manajer dengan meningkatkan komitmen menajer untuk mencapai tujuan penganggaran.
Variabel yang diteliti :
• Partisipasi dalam proses penganggaran
• Persepsi tentang keadilan
• Komitmen dalam mencapai tujuan
• Kinerja manajer dalam melakukan proses penganggaran
2. Perbedaan penelitian Wentzel dengan penelitian terdahulu :
Tidak seperti Lindquist (1995) dan Libby (1999) yang mengadopsi metode percobaan atau eksperimental, penelitian ini mengukur persepsi keadilan yang pada kenyataannya kemampuan dari partisipasi penganggaran untuk mempengaruhi keputusan anggaran bervariasi di antara manajer. Pengaturan anggaran yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan manajemen yang melaksanakan pemangkasan sumber daya dimana hal ini bertentangan dengan kinerja individu dalam proses produksi. Penelitian dalam keadilan penganggaran di lingkungan perusahaan yang melakukan pemangkasan sumber daya adalah hal yang penting karena memberikan bukti empiris bahwa perlakuan adil menjadi sangat penting untuk tenaga kerja yang tersisa setelah pemangkasan sumber daya. Kemudian, saat sumber daya berkurang selama proses pemangkasan dan restrukturisasi, manajer memaksakan untuk berbuat maksimal dengan sedikit sumber daya. Tujuan untuk mencapai target yang dianggarkan menjadi lebih sulit dan tingkah laku manajer yang mempertahankan pemangkasan sumber daya menjadi kritis untuk menentukan apakah upaya restrukturisasi berhasil. Penemuan dari penelitian ini kemudian adalah penerapan secara langsung dan secara praktek yang signifikan untuk keterlibatan manajer dalam keputusan pengalokasian kelangkaan sumber daya.
3. Metode Pengumpulan data :
Dengan menggunakan kuisioner yang dikumpulkan dari satu area lapangan yang tengah melakukan penghematan sumber daya.
4. Teknik Analisis :
Berdasarkan sifat gejala yang diteliti dan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka pengolahan data menggunakan metode deskriptif kualitatif atau paparan. Semua data yang telah dikumpulkan diklasifikasikan berdasarkan keperluan penelitian. Data yang diperoleh di lapangan yang sesuai dengan permasalahan penelitian selanjutnya dideskripsikan dan diinterpretasikan secara kualitatif. Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan beberapa jenis data yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder.
5. Simpulan :
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa peningkatan partisipasi selama penganggaran memelihara suasana keadilan dimana dapat meningkatkan komitmen manajer dalam memenuhi dan kemudian menambah tingkat performa manajer. Secara ringkas hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa persepsi keadilan secara langsung berhubungan dengan komitmen individu dalam mencapai tujuan penganggaran. Sejak saluran langsung juga didemonstrasikan antara partisipasi dengan persepsi keadilan, dan antara komitmen tujuan dengan kinerja, penemuan menyediakan pedoman praktis dengan menyarankan bahwa tingkatan kinerja manajemen dapat menjadi lebih baik dengan menggunakan metode partisipatif budget.
Theoritical Framework
1. Identifikasi teori yang mendasari artikel ini.
Mengenai hubungan antara partisipasi dan keadilan, dua teori ini terlibat dalam daerah keadilan untuk menjelaskan kenapa keadilan bisa bertambah dengan partisipasi, yaitu the self interest model dan the group value model (Tyler 1989, Lind & Tyler 1988). Berdasarkan model self-interest (disebut juga instrumental perspectif), masyarakat/orang mencari keterlebitan dalam proses karena mereka fokus terhadap kepentingan atau target mereka sendiri. Persepsi keadilan karena itu bertambah saat masing-masing individu diberikan kesempatan untuk berpartisipasi karena mereka percaya bahwa input/masukan mereka adalahalat untuk mencapai target yang diinginkan. Sedangkan model group-value (disebut juga relational perspektif atau noninstrumental voice), dilain pihak, mempertahankan bahwa input adalah penting dalam dan dari dirinya sendiri, tidak peduli apakah itu sebenarnya mempengaruhi target. Berdasarkan teori ini, besarnya nilai hubungan individu dengan kelompok dan prosedur yang mencerminkan solidaritas kelompok. Partisipasi menambah persepsi keadilan karena itu berkontribusi untuk suatu hubungan dengan kelompok.
Dua istilah dari keadilan dipertimbangkan : distributif & procedural, keadilan distributive adalah keadilan dari target sebenarnya yang diterima oleh karyawan (Gilliland 1993; Gohen 1987;Adams 1965;Hamans 1961), sedangkan keadilan prosedural adalah keadilan dari prosedur yang digunakan untuk menentukan target distributif (Leventhal,1980).
Saat hubungan antara partisipasi dan keadilan distributif tidak secara langsung diuji dalam penelitian terdahulu, penelitian ini mengandung keterlibatan dalam proses penganggaran, melengkapi manajer dengan kesempatan untuk mempengaruhi keputusan alokasi.
2. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini
H1a : Persepsi manajer tentang partisipasi penganggaran dan keadilan distributif adalah berhubungan secara positif.
H1b : Persepsi manajer tentang partisipasi penganggaran dan keadilan prosedural adalah berhubungan secara positif.
H2a : Persepsi manajer tentang keadilan prosedural berhubungan positif dengan komitmen tujuan anggaran yang dilihat.
H2b : Persepsi manajer tentang keadilan distributif berhubungan positif dengan komitmen tujuan anggaran yang dilihat.
H3 : Komitmen untuk mencapai tujuan penganggaran dan performa manajer berhubungan posotif.
H4 : Hubungan langsung antara persepsi keadilan manajer dan performa adalah tidak signifikan saat komitmen tujuan dipertimbangkan.
H5 : Efek dari partisipasi penganggaran pada performa adalah tidak signifikan saat persepsi keadilan dna komitmen tujuan dipertimbangkan dalam model.
3. Hasil penelitian-penelitian terdahulu
Peran dari keadilan selama penganggaran merupakan hal yang difokuskan pada penelitian akuntansi yang sebelumnya. Secara konsep, Lindquist(1995) mengusulkan keinginan perusahaan untuk menjaga keadilan sebagai sebuah pendahuluan untuk proses penganggaran, menyarankan bahwa partisipasi dapat digunakan untuk mengenalkan keadilan dalam proses penganggaran. Saat studi akuntansi terdahulu tidak berfokus secara langsung pada lingkungan pemangkasan sumber daya, Libby(1999) mengusulkan bahwa perusahaan beroperasi dengan sumber daya yang terbatas dimana semua permintaan tidak dapat dipertemukan. Isu mengenai keadilan muncul dominan selama kekurangan pengaturan sumber daya. Ditambah lagi, penelitian terdahulu secara jelas mendemonstrasikan atau menunjukkan bahwa persepsi keadilan memegang peranan dalam masalah penganggaran. Sebagai contoh, penemuan empiris mendukung hubungan positif antara persepsi keadilan dan perilaku individu dalam pengaturan anggaran pemerintah dan universitas (Magner & Johnson 1995, Magner & Walker 1994) dan dalam lingkungan percobaan (Lindquist 1995). Hasil sebelumnya juga menyarankan bahwa kinerja selama penganggaran kurang lebih memperbaiki kondisi keadilan. Proses utama yang mana dengan persepsi keadilan memperbaiki kinerja, tetapi tidak ditunjukkan secara langsung.
4. Konsistensi ketiga hal tersebut.
Konsisten. Hal ini dapat dilihat dari teori yang menyebutkan bahwa partisipasi berpengaruh terhadap keadilan. Teori tersebut menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara partisipasi dan keadilan yang menjelaskan bagaimana keadilan bisa bertambah. Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa persepsi keadilan memegang peranan dalam masalah penganggaran, Hal inilah yang menyebabkan penelitian Wantzhel dikatakan konsisten karena hipotesis yang dibuat sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu tersebut.
Critical Review
1. Seharusnya sampel yang digunakan tidak hanya perusahaan yang keadilan kurang memadai tetapi dari perusahaan yang keadilannya memadai.
1. Motivasi Penelitian :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah persepsi tentang keadilan dalam proses penganggaran mampu memperbaiki kinerja manajer dengan meningkatkan komitmen menajer untuk mencapai tujuan penganggaran.
Variabel yang diteliti :
• Partisipasi dalam proses penganggaran
• Persepsi tentang keadilan
• Komitmen dalam mencapai tujuan
• Kinerja manajer dalam melakukan proses penganggaran
2. Perbedaan penelitian Wentzel dengan penelitian terdahulu :
Tidak seperti Lindquist (1995) dan Libby (1999) yang mengadopsi metode percobaan atau eksperimental, penelitian ini mengukur persepsi keadilan yang pada kenyataannya kemampuan dari partisipasi penganggaran untuk mempengaruhi keputusan anggaran bervariasi di antara manajer. Pengaturan anggaran yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan manajemen yang melaksanakan pemangkasan sumber daya dimana hal ini bertentangan dengan kinerja individu dalam proses produksi. Penelitian dalam keadilan penganggaran di lingkungan perusahaan yang melakukan pemangkasan sumber daya adalah hal yang penting karena memberikan bukti empiris bahwa perlakuan adil menjadi sangat penting untuk tenaga kerja yang tersisa setelah pemangkasan sumber daya. Kemudian, saat sumber daya berkurang selama proses pemangkasan dan restrukturisasi, manajer memaksakan untuk berbuat maksimal dengan sedikit sumber daya. Tujuan untuk mencapai target yang dianggarkan menjadi lebih sulit dan tingkah laku manajer yang mempertahankan pemangkasan sumber daya menjadi kritis untuk menentukan apakah upaya restrukturisasi berhasil. Penemuan dari penelitian ini kemudian adalah penerapan secara langsung dan secara praktek yang signifikan untuk keterlibatan manajer dalam keputusan pengalokasian kelangkaan sumber daya.
3. Metode Pengumpulan data :
Dengan menggunakan kuisioner yang dikumpulkan dari satu area lapangan yang tengah melakukan penghematan sumber daya.
4. Teknik Analisis :
Berdasarkan sifat gejala yang diteliti dan tujuan penelitian yang ingin dicapai, maka pengolahan data menggunakan metode deskriptif kualitatif atau paparan. Semua data yang telah dikumpulkan diklasifikasikan berdasarkan keperluan penelitian. Data yang diperoleh di lapangan yang sesuai dengan permasalahan penelitian selanjutnya dideskripsikan dan diinterpretasikan secara kualitatif. Analisis data dilakukan dengan memanfaatkan beberapa jenis data yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder.
5. Simpulan :
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa peningkatan partisipasi selama penganggaran memelihara suasana keadilan dimana dapat meningkatkan komitmen manajer dalam memenuhi dan kemudian menambah tingkat performa manajer. Secara ringkas hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa persepsi keadilan secara langsung berhubungan dengan komitmen individu dalam mencapai tujuan penganggaran. Sejak saluran langsung juga didemonstrasikan antara partisipasi dengan persepsi keadilan, dan antara komitmen tujuan dengan kinerja, penemuan menyediakan pedoman praktis dengan menyarankan bahwa tingkatan kinerja manajemen dapat menjadi lebih baik dengan menggunakan metode partisipatif budget.
Theoritical Framework
1. Identifikasi teori yang mendasari artikel ini.
Mengenai hubungan antara partisipasi dan keadilan, dua teori ini terlibat dalam daerah keadilan untuk menjelaskan kenapa keadilan bisa bertambah dengan partisipasi, yaitu the self interest model dan the group value model (Tyler 1989, Lind & Tyler 1988). Berdasarkan model self-interest (disebut juga instrumental perspectif), masyarakat/orang mencari keterlebitan dalam proses karena mereka fokus terhadap kepentingan atau target mereka sendiri. Persepsi keadilan karena itu bertambah saat masing-masing individu diberikan kesempatan untuk berpartisipasi karena mereka percaya bahwa input/masukan mereka adalahalat untuk mencapai target yang diinginkan. Sedangkan model group-value (disebut juga relational perspektif atau noninstrumental voice), dilain pihak, mempertahankan bahwa input adalah penting dalam dan dari dirinya sendiri, tidak peduli apakah itu sebenarnya mempengaruhi target. Berdasarkan teori ini, besarnya nilai hubungan individu dengan kelompok dan prosedur yang mencerminkan solidaritas kelompok. Partisipasi menambah persepsi keadilan karena itu berkontribusi untuk suatu hubungan dengan kelompok.
Dua istilah dari keadilan dipertimbangkan : distributif & procedural, keadilan distributive adalah keadilan dari target sebenarnya yang diterima oleh karyawan (Gilliland 1993; Gohen 1987;Adams 1965;Hamans 1961), sedangkan keadilan prosedural adalah keadilan dari prosedur yang digunakan untuk menentukan target distributif (Leventhal,1980).
Saat hubungan antara partisipasi dan keadilan distributif tidak secara langsung diuji dalam penelitian terdahulu, penelitian ini mengandung keterlibatan dalam proses penganggaran, melengkapi manajer dengan kesempatan untuk mempengaruhi keputusan alokasi.
2. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini
H1a : Persepsi manajer tentang partisipasi penganggaran dan keadilan distributif adalah berhubungan secara positif.
H1b : Persepsi manajer tentang partisipasi penganggaran dan keadilan prosedural adalah berhubungan secara positif.
H2a : Persepsi manajer tentang keadilan prosedural berhubungan positif dengan komitmen tujuan anggaran yang dilihat.
H2b : Persepsi manajer tentang keadilan distributif berhubungan positif dengan komitmen tujuan anggaran yang dilihat.
H3 : Komitmen untuk mencapai tujuan penganggaran dan performa manajer berhubungan posotif.
H4 : Hubungan langsung antara persepsi keadilan manajer dan performa adalah tidak signifikan saat komitmen tujuan dipertimbangkan.
H5 : Efek dari partisipasi penganggaran pada performa adalah tidak signifikan saat persepsi keadilan dna komitmen tujuan dipertimbangkan dalam model.
3. Hasil penelitian-penelitian terdahulu
Peran dari keadilan selama penganggaran merupakan hal yang difokuskan pada penelitian akuntansi yang sebelumnya. Secara konsep, Lindquist(1995) mengusulkan keinginan perusahaan untuk menjaga keadilan sebagai sebuah pendahuluan untuk proses penganggaran, menyarankan bahwa partisipasi dapat digunakan untuk mengenalkan keadilan dalam proses penganggaran. Saat studi akuntansi terdahulu tidak berfokus secara langsung pada lingkungan pemangkasan sumber daya, Libby(1999) mengusulkan bahwa perusahaan beroperasi dengan sumber daya yang terbatas dimana semua permintaan tidak dapat dipertemukan. Isu mengenai keadilan muncul dominan selama kekurangan pengaturan sumber daya. Ditambah lagi, penelitian terdahulu secara jelas mendemonstrasikan atau menunjukkan bahwa persepsi keadilan memegang peranan dalam masalah penganggaran. Sebagai contoh, penemuan empiris mendukung hubungan positif antara persepsi keadilan dan perilaku individu dalam pengaturan anggaran pemerintah dan universitas (Magner & Johnson 1995, Magner & Walker 1994) dan dalam lingkungan percobaan (Lindquist 1995). Hasil sebelumnya juga menyarankan bahwa kinerja selama penganggaran kurang lebih memperbaiki kondisi keadilan. Proses utama yang mana dengan persepsi keadilan memperbaiki kinerja, tetapi tidak ditunjukkan secara langsung.
4. Konsistensi ketiga hal tersebut.
Konsisten. Hal ini dapat dilihat dari teori yang menyebutkan bahwa partisipasi berpengaruh terhadap keadilan. Teori tersebut menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara partisipasi dan keadilan yang menjelaskan bagaimana keadilan bisa bertambah. Penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa persepsi keadilan memegang peranan dalam masalah penganggaran, Hal inilah yang menyebabkan penelitian Wantzhel dikatakan konsisten karena hipotesis yang dibuat sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu tersebut.
Critical Review
1. Seharusnya sampel yang digunakan tidak hanya perusahaan yang keadilan kurang memadai tetapi dari perusahaan yang keadilannya memadai.
27 April, 2011
saya memiliki tugas kuliah yang kurang saya mngerti,
dosen saya memberikan soal seperti ini
"tugas individu wordcount bebas tentang TRUE AND FAIR VIEW. diskusikan apakah angka angka akuntansi dapat dan harus TRUE dan FAIR. format pendahuluan,isi,penutup dan daftar pustaka seperti tulisan saya sewaktu UTS, trims"
jadi apakah yang dimaksud dalam tugas tersebut??
apakah yang dimasud true and fair view adalah karakteristik laporan keuangan yang benar dan layak (true and fair view)?
atau
beliau bermaksud agar saya menjelaskan angka akuntansi?
saya masih bingung dengan tugas tersebut,
beberapa refrensi yang saya dapat juga sangat membingungkan,
jadi bila anda mungkin tahu, mohon untuk post comment dan berikan refrensi yang jelas,
refrensi yang saya dapatkan antara lain:
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:5_V0MmL7zzkJ:www.freewebs.com/stiemuhpekl/asimetri%2520informasi.doc+angka+akuntansi&hl=en&gl=us&pid=bl&srcid=ADGEESgZ9wfd8K4uvLRjZa7LA1uCJ_l9IX8o4XLaJwoR1yNnlFyrDfhMXyI-0Cw0bY6JIb1sVEhiWWGCC6axd6P4Fe64BN5t34bj_k3JYyyYn78up9aKe3JCcB7ER6iReO35-VIGPUnt&sig=AHIEtbREirNSeoc95pR8HCjXzTnSfNpWoQ
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ncOu3bOoPPoJ:journal.uii.ac.id/index.php/JAAI/article/viewFile/808/725+angka+akuntansi&hl=en&gl=us&pid=bl&srcid=ADGEESi158-2R_wRRyL_3S5OHDFsC7WuJTpQw4tsTC1eoGNaiSL8I9eLWS2-ExPQ_veppLHeP0RR79oqrZOT9xo1X5PD8liiW6wiJrQG58lHSkgzMNLeTAmJ4PQp05e91sX3zXqFXSrQ&sig=AHIEtbRlER4QT2Km2Ux4EGvPErQWeJKJJg
http://journal.uii.ac.id/index.php/JAAI/article/view/808
http://yohanli.wordpress.com/2008/04/03/karakteristik-kualitas-laporan-keuangan-menurut-sfac-no-2/
http://telagaalkautsar.wordpress.com/2009/11/02/masa-depan-standar-akuntansi-menjelang-harmonisasi-dan-adopsi-ifrs/
http://telagaalkautsar.multiply.com/journal/item/136
http://harnityastuti.blogspot.com/2011/04/pelaporan-dan-pengungkapan_04.html
http://dasar-akuntansi.blogspot.com/2009/08/teori-akutansi-dan-metodologinya.html
mohon bantuanya dengan memberi refrensi,
dan bantu juga dengan klik iklan disamping,hehehe ^^
dosen saya memberikan soal seperti ini
"tugas individu wordcount bebas tentang TRUE AND FAIR VIEW. diskusikan apakah angka angka akuntansi dapat dan harus TRUE dan FAIR. format pendahuluan,isi,penutup dan daftar pustaka seperti tulisan saya sewaktu UTS, trims"
jadi apakah yang dimaksud dalam tugas tersebut??
apakah yang dimasud true and fair view adalah karakteristik laporan keuangan yang benar dan layak (true and fair view)?
atau
beliau bermaksud agar saya menjelaskan angka akuntansi?
saya masih bingung dengan tugas tersebut,
beberapa refrensi yang saya dapat juga sangat membingungkan,
jadi bila anda mungkin tahu, mohon untuk post comment dan berikan refrensi yang jelas,
refrensi yang saya dapatkan antara lain:
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:5_V0MmL7zzkJ:www.freewebs.com/stiemuhpekl/asimetri%2520informasi.doc+angka+akuntansi&hl=en&gl=us&pid=bl&srcid=ADGEESgZ9wfd8K4uvLRjZa7LA1uCJ_l9IX8o4XLaJwoR1yNnlFyrDfhMXyI-0Cw0bY6JIb1sVEhiWWGCC6axd6P4Fe64BN5t34bj_k3JYyyYn78up9aKe3JCcB7ER6iReO35-VIGPUnt&sig=AHIEtbREirNSeoc95pR8HCjXzTnSfNpWoQ
http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ncOu3bOoPPoJ:journal.uii.ac.id/index.php/JAAI/article/viewFile/808/725+angka+akuntansi&hl=en&gl=us&pid=bl&srcid=ADGEESi158-2R_wRRyL_3S5OHDFsC7WuJTpQw4tsTC1eoGNaiSL8I9eLWS2-ExPQ_veppLHeP0RR79oqrZOT9xo1X5PD8liiW6wiJrQG58lHSkgzMNLeTAmJ4PQp05e91sX3zXqFXSrQ&sig=AHIEtbRlER4QT2Km2Ux4EGvPErQWeJKJJg
http://journal.uii.ac.id/index.php/JAAI/article/view/808
http://yohanli.wordpress.com/2008/04/03/karakteristik-kualitas-laporan-keuangan-menurut-sfac-no-2/
http://telagaalkautsar.wordpress.com/2009/11/02/masa-depan-standar-akuntansi-menjelang-harmonisasi-dan-adopsi-ifrs/
http://telagaalkautsar.multiply.com/journal/item/136
http://harnityastuti.blogspot.com/2011/04/pelaporan-dan-pengungkapan_04.html
http://dasar-akuntansi.blogspot.com/2009/08/teori-akutansi-dan-metodologinya.html
mohon bantuanya dengan memberi refrensi,
dan bantu juga dengan klik iklan disamping,hehehe ^^
10 April, 2011
KONSEP DASAR MANAJEMEN BIAYA
A. Kerangka Sistem
Sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan yang melakukan satu atau lebih proses untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Pusat operasional dari sistem adalah proses, sistem menerima masukan yang diubah oleh proses menjadi keluaran yang memenuhi tujuan sistem.
B. Sistem Informasi Akuntansi
Bagian yang saling berhubungan terdiri dari : pemesanan dan penjualan, piutang yang ditagih dan penerimaan tunai, persediaan,buku besar umum, dan akuntansi biaya. Bagian yang saling berhubungan ini disebut subsistem dari SIA. Proses terdiri hal-hal seperti masuk seperti pengumpulan, pencatatan, pengikhtyisaran, dan pengelolaan data. Tujuannya adalah untuk menyediakan informasi keluaran bagi pengguna.
Sistem informasi ada dua yaitu :
1. Sistem informasi akuntansi keuangan yaitu subsistem informasi akuntansi yang terutama berhubungan dengan memproduksi keluaran untuk pengguna eksternal dan menggunakan peristiwa ekonomi yang dilakukan sebagai masukan dan proses yang memenuhi peraturan dan kesepakatan tertentu.
2. Sistem informasi manajemen biaya adalah subsistem informasi akuntansi yang terutama berhubungan dengan memproduksi keluaran untuk pengguna internal dengan menggunakan masukan dan proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan manajemen.
Tujuannya adalah untuk memberikan informasi untuk perhitungan harga pokok jasa, produk, dan objek lainnya, untuk pengambilan keputusan dan untuk perencanaan dan pengendalian.
http://kampus-online.blogspot.com/2008/06/ch1-mnj-biaya.html
Peran dan Tujuan Akuntansi Manajemen Sektor Publik
Peran utama akuntansi manajemen dalam organisasi sektor pulik adalah memberikan informasi akuntansi yang relevan dan handal kepada manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Tuntutan mengenai perlunya pengendalian atas berbagai kegiatan pemerintah, khususnya yang berimplikasi uang, dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal ini terjadi akibat praktik KKN di waktu yang lalu tidak saja telah mengakibatkan berkurangnya percepatan pembangunan, melainkan juga telah menimbulkan kesenjangan baik antara wilayah, sektor dan golongan serta merugikan khususnya bagi lapisan masyarakat bawah. Peran fundamental akuntansi manajemen di organisasi sektor publik adalah membantu manajer/pimpinan dengan informasi akuntansi yang dibutuhkan agar fungsi perencanaan dan pengendalian dapat dilakukan. Secara rinci, tujuan umum tersebut dapat diturunkan menjadi:
• Membantu manajemen memformulasi kebijakan organisasi.
• Membantu manajemen dalam proses perencanaan organisasi.
• Membantu manajemen dalam mengendalikan operasi/kegiatan organisasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi_Manajemen_Publik
PERAN AKUNTANSI MANAJEMEN BAGI SEKTOR PUBLIK
1. Perencanaan Strategis : akuntansi manajemen dibutuhkan sejak tahap perencanaan startegik. pada tahap perencanaan strategik, manajemen organisasi membuat alternatif-alternatif program yang dapat mendukung startegi organisasi.
2. Pemberian informasi biaya : proses penentuan biaya meliputi lima aktivitas, yaitu cost finding, cost recording, cost analyzing, strategic cost reduction, dan cost reporting.
3. Penilaian investasi : akuntansi manajemen dibutuhkan untuk menilai kelayakan informasi secara ekonomis dan finansial.
4. Penganggaran : akuntansi manajemen berperan untuk memfasilitasi terciptanya anggaran publik yang efektif.
5. Penentuan biaya layanan dan menentukan tarif pelayanan : akuntansi manajemen digunakan untuk menetukan biaya, tarif, dan subsidi bagi pelayanan publik.
6. Penilaian kinerja : akuntansi manajemen diperlukan untuk menentukan dan menyusun indikator kinerja kunci.
http://blog.beswandjarum.com/denus/2009/11/22/peran-akuntansi-manajemen-bagi-sektor-publik/
A. Kerangka Sistem
Sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan yang melakukan satu atau lebih proses untuk mencapai tujuan-tujuan khusus. Pusat operasional dari sistem adalah proses, sistem menerima masukan yang diubah oleh proses menjadi keluaran yang memenuhi tujuan sistem.
B. Sistem Informasi Akuntansi
Bagian yang saling berhubungan terdiri dari : pemesanan dan penjualan, piutang yang ditagih dan penerimaan tunai, persediaan,buku besar umum, dan akuntansi biaya. Bagian yang saling berhubungan ini disebut subsistem dari SIA. Proses terdiri hal-hal seperti masuk seperti pengumpulan, pencatatan, pengikhtyisaran, dan pengelolaan data. Tujuannya adalah untuk menyediakan informasi keluaran bagi pengguna.
Sistem informasi ada dua yaitu :
1. Sistem informasi akuntansi keuangan yaitu subsistem informasi akuntansi yang terutama berhubungan dengan memproduksi keluaran untuk pengguna eksternal dan menggunakan peristiwa ekonomi yang dilakukan sebagai masukan dan proses yang memenuhi peraturan dan kesepakatan tertentu.
2. Sistem informasi manajemen biaya adalah subsistem informasi akuntansi yang terutama berhubungan dengan memproduksi keluaran untuk pengguna internal dengan menggunakan masukan dan proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan manajemen.
Tujuannya adalah untuk memberikan informasi untuk perhitungan harga pokok jasa, produk, dan objek lainnya, untuk pengambilan keputusan dan untuk perencanaan dan pengendalian.
http://kampus-online.blogspot.com/2008/06/ch1-mnj-biaya.html
Peran dan Tujuan Akuntansi Manajemen Sektor Publik
Peran utama akuntansi manajemen dalam organisasi sektor pulik adalah memberikan informasi akuntansi yang relevan dan handal kepada manajer untuk melaksanakan fungsi perencanaan dan pengendalian organisasi. Tuntutan mengenai perlunya pengendalian atas berbagai kegiatan pemerintah, khususnya yang berimplikasi uang, dari waktu ke waktu semakin meningkat. Hal ini terjadi akibat praktik KKN di waktu yang lalu tidak saja telah mengakibatkan berkurangnya percepatan pembangunan, melainkan juga telah menimbulkan kesenjangan baik antara wilayah, sektor dan golongan serta merugikan khususnya bagi lapisan masyarakat bawah. Peran fundamental akuntansi manajemen di organisasi sektor publik adalah membantu manajer/pimpinan dengan informasi akuntansi yang dibutuhkan agar fungsi perencanaan dan pengendalian dapat dilakukan. Secara rinci, tujuan umum tersebut dapat diturunkan menjadi:
• Membantu manajemen memformulasi kebijakan organisasi.
• Membantu manajemen dalam proses perencanaan organisasi.
• Membantu manajemen dalam mengendalikan operasi/kegiatan organisasi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi_Manajemen_Publik
PERAN AKUNTANSI MANAJEMEN BAGI SEKTOR PUBLIK
1. Perencanaan Strategis : akuntansi manajemen dibutuhkan sejak tahap perencanaan startegik. pada tahap perencanaan strategik, manajemen organisasi membuat alternatif-alternatif program yang dapat mendukung startegi organisasi.
2. Pemberian informasi biaya : proses penentuan biaya meliputi lima aktivitas, yaitu cost finding, cost recording, cost analyzing, strategic cost reduction, dan cost reporting.
3. Penilaian investasi : akuntansi manajemen dibutuhkan untuk menilai kelayakan informasi secara ekonomis dan finansial.
4. Penganggaran : akuntansi manajemen berperan untuk memfasilitasi terciptanya anggaran publik yang efektif.
5. Penentuan biaya layanan dan menentukan tarif pelayanan : akuntansi manajemen digunakan untuk menetukan biaya, tarif, dan subsidi bagi pelayanan publik.
6. Penilaian kinerja : akuntansi manajemen diperlukan untuk menentukan dan menyusun indikator kinerja kunci.
http://blog.beswandjarum.com/denus/2009/11/22/peran-akuntansi-manajemen-bagi-sektor-publik/
1. Pengertian system ABC (Activity Based Costing)
Biaya berbasis aktivitas atau activity based costing (ABC) merupakan sistem penentuan biaya yang membebankan biaya ke objek biaya seperti produk atau jasa berdasarkan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Aktivitas disini dapat berupa kejadian, tugas, atau unit kerja yang memiliki tujuan tertentu. Jadi, dengan sistem ABC biaya akan dihitung pada masing-masing aktivitas dan dibebankan ke objek biaya berdasarkan konsumsi dari aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau jasa.
ABC memusatkan perhatiannya pada biaya tidak langsung (indirect cost). Hal ini karena biaya tidak langsung merupakan biaya yang sulit untuk ditelusuri terhadap objek biaya. Sementara biaya langsung dapat dengan mudah ditelusuri ke objek biaya.
Dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya tidak langsung tersebut disebut drivers. Sebuah driver sumber daya (resource driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya sumber daya ke aktivitas-aktivitas yang berbeda. Driver aktivitas (activity driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya akhir.
Suatu keterbatasan dari sistem penentuan biaya tradisional adalah mengalokasikan biaya tidak langsung dengan menggunakan tarif tunggal atau berbasis volume. Kenyataannya banyak biaya tidak langsung yang tidak berbasis volume, sehingga dapat mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya produk. ABC membantu dalam mengurangi masalah tersebut.
Manfaat sistem biaya ABC (Activity-Based Costing) bagi pihak manajemen perusahaan :
1. Suatu pengkajian sistem biaya ABC dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya, mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan fokus pada pengurangan biaya yang memungkinkan. Analisis biaya ini dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya proses manufakturing, hal ini pada gilirannya dapat memacu aktivitas untuk mengorganisasi proses, memperbaiki mutu, dan mengurangi biaya.
2. Pihak manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
3. Sistem biaya ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan (management decision making) membuat-membeli yang manajemen harus lakukan, disamping itu dengan penentuan biaya yang lebih akurat maka maka keputusan yang akan diambil oleh phak manajemen akan lebih baik dan tepat. Hal ini didasarkan bahwa dengan akurasi perhitungan biaya produk yang menjadi sangat penting dalam iklim kompetisi dewasa ini.
4. Mendukung perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement), melalui analisa aktivitas, sistem ABC memungkinkan tindakan eleminasi atau perbaikan terhadap aktivitas yang tidak bernilai tambah atau kurang efisien. Hal ini berkaitan erat dengan masalah produktivitas perusahaan.
5. Memudahkan penentuan biaya-biaya yang kurang relevan (cost reduction), pada sistem tradisional, banyak biaya-biaya yang kurang relevan yang tersembunyi. Sistem ABC yang transparan menyebabkan sumber-sumber biaya tersebut dapat diketahui dan dieliminasi.
6. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, piliak manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume produksi yang diperlukan untuk mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume rendah.
2. Mengidentifikasi Biaya dan Aktivitas
Selanjutnya perlu untuk mengidentifikasi biaya dan aktivitas. Proses identifikasi biaya terdiri dari identifikasi biaya langsung dan tidak langsung yang terkait dengen objek biaya yang dipilih. Biaya-biaya tersebut dapat diperoleh dari rekening buku besar atau bagan rekening yang perusahaan miliki.
Dalam sistem ABC biasanya memiliki empat kategori aktivitas, yaitu:
a. Aktivitas berlevel unit atau volume yaitu aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi setiap unit produk. Contohnya, jam tenaga kerja langsung, jam mesin, jumlah unit yang dihasilkan, dan lain sebagainya.
b. Aktivitas berlevel batch atau kelompok yaitu aktivitas yang dilakukan untuk setiap batch atau kelompok produk yang dihasilkan atau diproduksi atau dijual. Contohnya, jam setup, pesanan produksi, permintaan material, dan lain sebagainya.
c. Aktivitas untuk mendukung produk atau jasa yaitu aktivitas yang dilakukan untuk membantu produksi produk atau jasa. Contohnya, perubahan desain produk, jam desain produk, dan lain sebagainya.
d. Aktivitas untuk mendukung fasilitas yaitu aktivitas yang dilakukan untuk mendukung organisasi secara keseluruhan. Contohnya, biaya administrasi umum (termasuk sewa dan keamanan gedung), pajak properti, manajemen pabrik, dan lain sebagainya.
3. Mengidentifikasikan Pemicu Biaya dari Setiap Aktivitas
(Cost Driver)
Dalam proses mendesain sistem biaya berdasarkan aktivitas (Activity Based Costing System/ABC), diperlukan pemahaman yang berkaitan dengan jumlah pemicu biaya yang diperlukan dan menentukan pemicu biaya yang sesuai. Kedua faktor tersebut berhubungan erat sebab tipe dari cost driver yang dipilih akan mempengaruhi jumlah pemicu yang diperlukan sesuai tingkat akurasi sistem. Permasalahan timbul apabila jumlah pemicu biaya yang dipergunakan terlalu banyak, karena secara ekonomis tidak menguntungkan untuk menentukan pemicu yang berbeda dari setiap aktivitas dan pada beberapa proses perusahaan yang menggunakan aktivitas secara bersama-sama (Agregat) dengan pemicutunggal sebagai dasar penelusuran biaya aktivitas ke produk yang dihasilkan, terdapat kesulitan untuk memilih pemicu yang sesuai.
A. Jumlah Pemicu yang Diperlukan
Jumlah minimum dari pemicu yang diperlukan dalam sistem biaya berdasarkan akivitas tergantung dari pertimbangan tingkat akurasi dari laporan biaya produk yang diinginkan dan kompleksitas dari bauran produk yang diproduksi. Semakin tinggi tingkat akurasi yang dipertimbangkan, jumlah pemicu yang dibutuhkan semakin banyak menurut Copper dan Kaplan (1991), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi jumlah pemicu biaya yang diperlukan, yaitu:
• Diversitas dari Produk (Product Diversity)
Diversitas pada produk terjadi apabila produk mengkonsumsi aktivitas dalam proporsi yang berbeda. Derajat diversitas dari produk diukur dengan menentukan rasio konsumsi aktivitas tiap produk dan membagi rasio aktivitas yang tinggi dengan rasio konsumsi aktivitas yang rendah untuk menentukan derajat diversitas dari produk-produk yang dianalisa.
• Biaya relatif dari aktivitas yang ditelusuri (relative cost of activities aggregated)
Biaya relatif dari aktivitas menyatakan persentase biaya aktivitas terhadap total biaya proses produksi. Pada proses produksi dengan aktivitas-aktivitas yang bersifat agregat, biaya relatif dari aktivitas sangat berpengaruh, karena semakin tinggi biaya relatif dari aktivitas akan menghasilkan distorsi yang tinggi apabila penelusuran konsumsi dari produk tidak akurat akibat penggunaan pemicu aktivitas yang tidak sesuai (jumlah dan jenis pemicu aktivitas).
• Tingkat diversitas volume produksi (Volume Diversity)
Diversitas dalam volume produksi terjadi apabila produk diproduksi dalam ukuran kelompok produk (batch) yang berbeda. Ukuran batch yang berbeda akan mempengaruhi aktivitas produksi dan aktivitas pendukung lainnya, seperti jumlah pemesanan dan proses pengiriman (Shipping). Dengan menerapkan sistem biaya berdasarkan aktivitas, dapat dilakukan penyesuaian pemicu biaya yang digunakan akibat pengaruh dari volume produksi yang berbeda, dimana pada sistem biaya tradisional hal ini tidak dapat dilakukan. Diversitas produk dan diversitas volume produksi masing-masing memiliki pengaruh terhadap distorsi yang terjadi pada akurasi biaya produk yang dihasilkan
• Interaksi ketiga faktor yang mempengaruhi pemilihan pemicu biaya Secara khusus
semakin tinggi biaya relatif dari aktivitas yang ditelusuri (yang tidak berhubungan dengan volume produksi), distorsi yang dihasilkan dari penelusuran biaya berdasarkan unit produksi akan bertambah besar. Sedangkan product diversity dan volume diversity masing-masing dapat saling memperkuat dan berlawanan terhadap distorsi yang terjadi.
B. Menyeleksi Pemicu Biaya yang Sesuai
Setelah menentukan jumlah minimum cost driver yang diperlukan, langkah selanjutnya adalah menyeleksi cost driver yang sesuai dengan mendesain sistem biaya berdasarkan aktivitas. Cooper (1991) menegaskan bahwa, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi penyeleksian pemicu biaya yang sesuai, yaitu:
• Kemudahan untuk menentukan data yang diperlukan dari pemicu biaya (cost of measurement)
Dalam sistem biaya berdasarkan aktivitas tingkat akurasi yang baik diperoleh dengan menggunakan lebih banyak cost driver daripada pemicu tunggal berdasarkan volume produksi. Untuk mengurangi biaya pengukuran dari pemicu aktivitas (cost of measurement), activity based cost system mempergunakan pemicu yang mudah ditentukan kuantitasnya.
Pemilihan pemicu biaya yang menggunakan jumlah transaksi dari aktivitas (number of transaction generated by activity) sebagai pengganti pemicu biaya berdasarkan durasi dari aktivitas, dapat mengurangi biaya pengukuran dalam mendesain sistem biaya berdasarkan aktivitas.
Menentukan data dari pemicu berdasarkan jumlah transaksi ini mudah diperoleh, karena transaksi dihasilkan pada saat suatu aktivitas dilakukan. Pemicu berdasarkan transaksi tersebut antara lain, jumlah pesanan yang diproses, jumlah proses pengiriman, dan jumlah inspeksi yang dilakukan.
• Korelasi antara tingkat konsumsi aktivitas dari pemicu biaya dengan konsumsi aktual aktivitas (Degree of Correlation)
Penggunaan pemicu biaya yang mengungkapkan secara tidak langsung konsumsi aktivitas oleh produk akan berakibat terjadi distorsi pada laporan biaya produk, sebab pemicu tersebut tidak dapat menggambarkan dengan akurat tingkat konsumsi aktivitas sebenarnya dari produk. Seberapa jelas pemicu biaya mengungkapkan konsumsi aktivitas aktual dari produk, dapat diukur dengan tingkat korelasi antara kuantitas dari aktivitas yang ditelusuri pada produk terhadap konsumsi aktual aktivitas oleh produk. Hubungan korelasi tersebut dipergunakan untuk mengetahui tingkat akurasi dari penelusuran biaya aktivitas oleh produk dan sebagai alat bantu dalam menyeleksi pemicu biaya yang sesuai.
• Pengaruh perilaku pemicu biaya terhadap lingkungan (Behavioral Effect)
Dalam memilih pemicu biaya, efek penggunaan dari pemicu biaya tertentu terhadap perilaku biaya individu dalam perusahaan harus dipertimbangkan. Efek perilaku dapat bermanfaat (benefical) atau berbahaya (harmful). Perilaku yang bermanfaat tersebut apabila perilaku akibat penggunaan pemicu biaya tertentu dikehendaki. Sedangkan pengaruhnya berbahaya jika akibat penggunaan pemicu tersebut tidak diinginkan.
4. Tahapan aplikasi sistem ABC
lima tahapan dalam merancang ABC adalah 1)mengidentifikasi objek biaya yang dipilih, 2)mengidentifikasi biaya dan aktivitas, 3)membebankan biaya tidak langsung ke aktivitas, 4)membebankan biaya aktivitas ke objek biaya, 5) menghitung jumlah biaya untuk objek biaya baik biaya langsung maupun tidak langsung.
2.1 Mengidentifikasi Objek Biaya yang Dipilih
Tahap pertama dalam merancang ABC adalah mengidentifikasi objek biaya. Objek biaya disini bisa berupa produk atau jasa, pelanggan, dan lain sebagainya.
2.2 Mengidentifikasi Biaya dan Aktivitas
Selanjutnya perlu untuk mengidentifikasi biaya dan aktivitas. Proses identifikasi biaya terdiri dari identifikasi biaya langsung dan tidak langsung yang terkait dengen objek biaya yang dipilih. Biaya-biaya tersebut dapat diperoleh dari rekening buku besar atau bagan rekening yang perusahaan miliki.
2.3 Membebankan Biaya Tidak Langsung ke Aktivitas
Setelah dilakukan identifikasi biaya dan analisis aktivitas, biaya-biaya tidak langsung dialokasikan ke pusat biaya aktivitas dengan menggunakan driver sumber daya (resources driver). Sehingga biaya-biaya tidak langsung tersebut akan dikelompokan atau dipusatkan dalam pusat biaya aktivitas.
2.4 Membebankan Biaya Aktivitas ke Objek Biaya
Setelah biaya-biaya tidak langsung dikelompokan atau dipusatkan dalam pusat biaya aktivitas, selanjutnya pusat biaya aktivitas tersebut dibebankan ke objek biaya yang dipilih menggunakan driver aktivitas (activity driver).
2.5 Menghitung Jumlah Biaya dari Objek Biaya dengan Menambahkan Biaya Langsung dan Tidak Langsung
Setelah membebankan biaya tidak langsung ke objek biaya, selanjutnya ditambahkan dengan biaya langsung untuk objek biaya tersebut sehingga diperoleh jumlah biaya untuk objek biaya yang dihitung.
Biaya berbasis aktivitas atau activity based costing (ABC) merupakan sistem penentuan biaya yang membebankan biaya ke objek biaya seperti produk atau jasa berdasarkan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Aktivitas disini dapat berupa kejadian, tugas, atau unit kerja yang memiliki tujuan tertentu. Jadi, dengan sistem ABC biaya akan dihitung pada masing-masing aktivitas dan dibebankan ke objek biaya berdasarkan konsumsi dari aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau jasa.
ABC memusatkan perhatiannya pada biaya tidak langsung (indirect cost). Hal ini karena biaya tidak langsung merupakan biaya yang sulit untuk ditelusuri terhadap objek biaya. Sementara biaya langsung dapat dengan mudah ditelusuri ke objek biaya.
Dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya tidak langsung tersebut disebut drivers. Sebuah driver sumber daya (resource driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya sumber daya ke aktivitas-aktivitas yang berbeda. Driver aktivitas (activity driver) adalah sebuah dasar yang dipakai untuk mengalokasikan biaya aktivitas ke produk, pelanggan, atau objek biaya akhir.
Suatu keterbatasan dari sistem penentuan biaya tradisional adalah mengalokasikan biaya tidak langsung dengan menggunakan tarif tunggal atau berbasis volume. Kenyataannya banyak biaya tidak langsung yang tidak berbasis volume, sehingga dapat mengakibatkan distorsi dalam penentuan biaya produk. ABC membantu dalam mengurangi masalah tersebut.
Manfaat sistem biaya ABC (Activity-Based Costing) bagi pihak manajemen perusahaan :
1. Suatu pengkajian sistem biaya ABC dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya, mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan fokus pada pengurangan biaya yang memungkinkan. Analisis biaya ini dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya proses manufakturing, hal ini pada gilirannya dapat memacu aktivitas untuk mengorganisasi proses, memperbaiki mutu, dan mengurangi biaya.
2. Pihak manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.
3. Sistem biaya ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan (management decision making) membuat-membeli yang manajemen harus lakukan, disamping itu dengan penentuan biaya yang lebih akurat maka maka keputusan yang akan diambil oleh phak manajemen akan lebih baik dan tepat. Hal ini didasarkan bahwa dengan akurasi perhitungan biaya produk yang menjadi sangat penting dalam iklim kompetisi dewasa ini.
4. Mendukung perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement), melalui analisa aktivitas, sistem ABC memungkinkan tindakan eleminasi atau perbaikan terhadap aktivitas yang tidak bernilai tambah atau kurang efisien. Hal ini berkaitan erat dengan masalah produktivitas perusahaan.
5. Memudahkan penentuan biaya-biaya yang kurang relevan (cost reduction), pada sistem tradisional, banyak biaya-biaya yang kurang relevan yang tersembunyi. Sistem ABC yang transparan menyebabkan sumber-sumber biaya tersebut dapat diketahui dan dieliminasi.
6. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, piliak manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume produksi yang diperlukan untuk mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume rendah.
2. Mengidentifikasi Biaya dan Aktivitas
Selanjutnya perlu untuk mengidentifikasi biaya dan aktivitas. Proses identifikasi biaya terdiri dari identifikasi biaya langsung dan tidak langsung yang terkait dengen objek biaya yang dipilih. Biaya-biaya tersebut dapat diperoleh dari rekening buku besar atau bagan rekening yang perusahaan miliki.
Dalam sistem ABC biasanya memiliki empat kategori aktivitas, yaitu:
a. Aktivitas berlevel unit atau volume yaitu aktivitas yang dilakukan untuk memproduksi setiap unit produk. Contohnya, jam tenaga kerja langsung, jam mesin, jumlah unit yang dihasilkan, dan lain sebagainya.
b. Aktivitas berlevel batch atau kelompok yaitu aktivitas yang dilakukan untuk setiap batch atau kelompok produk yang dihasilkan atau diproduksi atau dijual. Contohnya, jam setup, pesanan produksi, permintaan material, dan lain sebagainya.
c. Aktivitas untuk mendukung produk atau jasa yaitu aktivitas yang dilakukan untuk membantu produksi produk atau jasa. Contohnya, perubahan desain produk, jam desain produk, dan lain sebagainya.
d. Aktivitas untuk mendukung fasilitas yaitu aktivitas yang dilakukan untuk mendukung organisasi secara keseluruhan. Contohnya, biaya administrasi umum (termasuk sewa dan keamanan gedung), pajak properti, manajemen pabrik, dan lain sebagainya.
3. Mengidentifikasikan Pemicu Biaya dari Setiap Aktivitas
(Cost Driver)
Dalam proses mendesain sistem biaya berdasarkan aktivitas (Activity Based Costing System/ABC), diperlukan pemahaman yang berkaitan dengan jumlah pemicu biaya yang diperlukan dan menentukan pemicu biaya yang sesuai. Kedua faktor tersebut berhubungan erat sebab tipe dari cost driver yang dipilih akan mempengaruhi jumlah pemicu yang diperlukan sesuai tingkat akurasi sistem. Permasalahan timbul apabila jumlah pemicu biaya yang dipergunakan terlalu banyak, karena secara ekonomis tidak menguntungkan untuk menentukan pemicu yang berbeda dari setiap aktivitas dan pada beberapa proses perusahaan yang menggunakan aktivitas secara bersama-sama (Agregat) dengan pemicutunggal sebagai dasar penelusuran biaya aktivitas ke produk yang dihasilkan, terdapat kesulitan untuk memilih pemicu yang sesuai.
A. Jumlah Pemicu yang Diperlukan
Jumlah minimum dari pemicu yang diperlukan dalam sistem biaya berdasarkan akivitas tergantung dari pertimbangan tingkat akurasi dari laporan biaya produk yang diinginkan dan kompleksitas dari bauran produk yang diproduksi. Semakin tinggi tingkat akurasi yang dipertimbangkan, jumlah pemicu yang dibutuhkan semakin banyak menurut Copper dan Kaplan (1991), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi jumlah pemicu biaya yang diperlukan, yaitu:
• Diversitas dari Produk (Product Diversity)
Diversitas pada produk terjadi apabila produk mengkonsumsi aktivitas dalam proporsi yang berbeda. Derajat diversitas dari produk diukur dengan menentukan rasio konsumsi aktivitas tiap produk dan membagi rasio aktivitas yang tinggi dengan rasio konsumsi aktivitas yang rendah untuk menentukan derajat diversitas dari produk-produk yang dianalisa.
• Biaya relatif dari aktivitas yang ditelusuri (relative cost of activities aggregated)
Biaya relatif dari aktivitas menyatakan persentase biaya aktivitas terhadap total biaya proses produksi. Pada proses produksi dengan aktivitas-aktivitas yang bersifat agregat, biaya relatif dari aktivitas sangat berpengaruh, karena semakin tinggi biaya relatif dari aktivitas akan menghasilkan distorsi yang tinggi apabila penelusuran konsumsi dari produk tidak akurat akibat penggunaan pemicu aktivitas yang tidak sesuai (jumlah dan jenis pemicu aktivitas).
• Tingkat diversitas volume produksi (Volume Diversity)
Diversitas dalam volume produksi terjadi apabila produk diproduksi dalam ukuran kelompok produk (batch) yang berbeda. Ukuran batch yang berbeda akan mempengaruhi aktivitas produksi dan aktivitas pendukung lainnya, seperti jumlah pemesanan dan proses pengiriman (Shipping). Dengan menerapkan sistem biaya berdasarkan aktivitas, dapat dilakukan penyesuaian pemicu biaya yang digunakan akibat pengaruh dari volume produksi yang berbeda, dimana pada sistem biaya tradisional hal ini tidak dapat dilakukan. Diversitas produk dan diversitas volume produksi masing-masing memiliki pengaruh terhadap distorsi yang terjadi pada akurasi biaya produk yang dihasilkan
• Interaksi ketiga faktor yang mempengaruhi pemilihan pemicu biaya Secara khusus
semakin tinggi biaya relatif dari aktivitas yang ditelusuri (yang tidak berhubungan dengan volume produksi), distorsi yang dihasilkan dari penelusuran biaya berdasarkan unit produksi akan bertambah besar. Sedangkan product diversity dan volume diversity masing-masing dapat saling memperkuat dan berlawanan terhadap distorsi yang terjadi.
B. Menyeleksi Pemicu Biaya yang Sesuai
Setelah menentukan jumlah minimum cost driver yang diperlukan, langkah selanjutnya adalah menyeleksi cost driver yang sesuai dengan mendesain sistem biaya berdasarkan aktivitas. Cooper (1991) menegaskan bahwa, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi penyeleksian pemicu biaya yang sesuai, yaitu:
• Kemudahan untuk menentukan data yang diperlukan dari pemicu biaya (cost of measurement)
Dalam sistem biaya berdasarkan aktivitas tingkat akurasi yang baik diperoleh dengan menggunakan lebih banyak cost driver daripada pemicu tunggal berdasarkan volume produksi. Untuk mengurangi biaya pengukuran dari pemicu aktivitas (cost of measurement), activity based cost system mempergunakan pemicu yang mudah ditentukan kuantitasnya.
Pemilihan pemicu biaya yang menggunakan jumlah transaksi dari aktivitas (number of transaction generated by activity) sebagai pengganti pemicu biaya berdasarkan durasi dari aktivitas, dapat mengurangi biaya pengukuran dalam mendesain sistem biaya berdasarkan aktivitas.
Menentukan data dari pemicu berdasarkan jumlah transaksi ini mudah diperoleh, karena transaksi dihasilkan pada saat suatu aktivitas dilakukan. Pemicu berdasarkan transaksi tersebut antara lain, jumlah pesanan yang diproses, jumlah proses pengiriman, dan jumlah inspeksi yang dilakukan.
• Korelasi antara tingkat konsumsi aktivitas dari pemicu biaya dengan konsumsi aktual aktivitas (Degree of Correlation)
Penggunaan pemicu biaya yang mengungkapkan secara tidak langsung konsumsi aktivitas oleh produk akan berakibat terjadi distorsi pada laporan biaya produk, sebab pemicu tersebut tidak dapat menggambarkan dengan akurat tingkat konsumsi aktivitas sebenarnya dari produk. Seberapa jelas pemicu biaya mengungkapkan konsumsi aktivitas aktual dari produk, dapat diukur dengan tingkat korelasi antara kuantitas dari aktivitas yang ditelusuri pada produk terhadap konsumsi aktual aktivitas oleh produk. Hubungan korelasi tersebut dipergunakan untuk mengetahui tingkat akurasi dari penelusuran biaya aktivitas oleh produk dan sebagai alat bantu dalam menyeleksi pemicu biaya yang sesuai.
• Pengaruh perilaku pemicu biaya terhadap lingkungan (Behavioral Effect)
Dalam memilih pemicu biaya, efek penggunaan dari pemicu biaya tertentu terhadap perilaku biaya individu dalam perusahaan harus dipertimbangkan. Efek perilaku dapat bermanfaat (benefical) atau berbahaya (harmful). Perilaku yang bermanfaat tersebut apabila perilaku akibat penggunaan pemicu biaya tertentu dikehendaki. Sedangkan pengaruhnya berbahaya jika akibat penggunaan pemicu tersebut tidak diinginkan.
4. Tahapan aplikasi sistem ABC
lima tahapan dalam merancang ABC adalah 1)mengidentifikasi objek biaya yang dipilih, 2)mengidentifikasi biaya dan aktivitas, 3)membebankan biaya tidak langsung ke aktivitas, 4)membebankan biaya aktivitas ke objek biaya, 5) menghitung jumlah biaya untuk objek biaya baik biaya langsung maupun tidak langsung.
2.1 Mengidentifikasi Objek Biaya yang Dipilih
Tahap pertama dalam merancang ABC adalah mengidentifikasi objek biaya. Objek biaya disini bisa berupa produk atau jasa, pelanggan, dan lain sebagainya.
2.2 Mengidentifikasi Biaya dan Aktivitas
Selanjutnya perlu untuk mengidentifikasi biaya dan aktivitas. Proses identifikasi biaya terdiri dari identifikasi biaya langsung dan tidak langsung yang terkait dengen objek biaya yang dipilih. Biaya-biaya tersebut dapat diperoleh dari rekening buku besar atau bagan rekening yang perusahaan miliki.
2.3 Membebankan Biaya Tidak Langsung ke Aktivitas
Setelah dilakukan identifikasi biaya dan analisis aktivitas, biaya-biaya tidak langsung dialokasikan ke pusat biaya aktivitas dengan menggunakan driver sumber daya (resources driver). Sehingga biaya-biaya tidak langsung tersebut akan dikelompokan atau dipusatkan dalam pusat biaya aktivitas.
2.4 Membebankan Biaya Aktivitas ke Objek Biaya
Setelah biaya-biaya tidak langsung dikelompokan atau dipusatkan dalam pusat biaya aktivitas, selanjutnya pusat biaya aktivitas tersebut dibebankan ke objek biaya yang dipilih menggunakan driver aktivitas (activity driver).
2.5 Menghitung Jumlah Biaya dari Objek Biaya dengan Menambahkan Biaya Langsung dan Tidak Langsung
Setelah membebankan biaya tidak langsung ke objek biaya, selanjutnya ditambahkan dengan biaya langsung untuk objek biaya tersebut sehingga diperoleh jumlah biaya untuk objek biaya yang dihitung.
1. Biaya Variable dan Absorpstion
Biaya variabel adalah Kalkulasi biaya yang menentukan bahwa yang termasuk biaya produksi adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Sedangkan BOP Tetap termasuk biaya periodik..
Manfaat Biaya Variable bagi Manajemen :
1. Biaya Variable sebagai Alat Perencanaan Lab
2. Biaya Variable sebagai Petunjuk Penentuan Harga Jual
3. Biaya Variable untuk Pengambilan Keputusan Manajemen
Biaya Absorption adalah Kalkulasi biaya yang menentukan bahwa yang termasuk biaya produksi adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik tetap maupun variabel.
Analisis dan Pembanding Perhitungan Biaya Variable dan Perhitungan Biaya Absorpstion
Perhitungn biya variable menekankan perbedaan antara biaya manufaktur variable dan tetap. Perhitungan biaya variable (variable costing) membebankan hanya biaya manufaktur variabwl ke produk. Biaya ini meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variable. Overead tetap diperlakukan sebagai beban periode dan tidak disertakan dalam penentuan biaya produk. Dasar pemikiran untuk ini adalah bahwa overhead tetap merupakan biaya kapasitas, atau tetap ada dalam bisnis. Perhitungan biaya absorpsi (absorption costing) membebankan semua biaya manufaktur ke produk. Bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead tetap adalah hal-hal yang menentukan biaya produk. Jadi, menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead tetap dipandang sebagai biaya produk. Bukan biaya periode. Menurut metode ini, overhead tetap yang ditetapkan terlebih dulu dan tidak dibebankan sampa produk terjual. Dengan kata lain overhead tetap adalah biaya sebagai biaya prosuk atau periode menurut perhitungan biaya variable dan absorpsi. Akhir-akhr ini, perhitungan biaya absorpsi diisyaratkan untuk keperluan pelaporan eksternal.
Laporan Laba Rugi dan Analisis Rekonsiliasi
Karena biaya produk per unit merupakan dasar bagi penghitungan harga pokok penjualan, maka metode perhitungan biaya variable dan absorpsi dapat mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Perbedaan terjadi karena jumlah overhead tetap yang diakui sebagai beban pada kedua metode tersebut.
Hubungan laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungn biaya absorpsi berubah ketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah. Apabila barang yang terjual lebih banyak dari yang diproduksi, maka laba menurut perhitungan biaya variable akan lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi. Menurut perhitungan biaya absorpsi, unit-unit yang keluar dari persediaan mengandung overhead tetap dari periode sebelumnya selain itu, unit-unit yang diproduksi dan dijual telah mengandung seluruh overhead tetap periode berjalan. Dengan demikian, jumlah beban overhead tetap menurut perhitungan biaya absorpsi lebih besar dari biaya overhead tetap periode berjalan sejumlah overhead tetap yang keluar dari persediaan. Oleh karenaitu, laba menurut perhitungan biaya variable lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi karena sejumlah overhead tetap mengalir keluar dari perssediaan awal.
Kunci untuk menjelaskan perbedaan di antara kedua laba tersebut adalah analisis arus overhead tetap. Perhitungan biaya variable selslu mengakui total overhead tetap periode sebagai beban. Di pihak lain, perhitungn biaya absorpsi hanya mengakui overhead tatap yang ada pada unit yang terjual. Apabila jumlah yang diproduksi berbeda dari yang terjual, overhead tetap akan mengalir ke luar atau kedalam persediaan. Apabila jumlah overhead tetap dalam persediaan meningkat, maka laba menurut perhitungan biaya absorpsi lebih besar daripada laba menurut perhitungn biaya varibel dengan menghitug kenaikan bersih. Apabila overhead tetap persediaan berkurang, maka laba menurut perhitungn biaya variable lebih besar daripada laba menurut perhtungan biaya absorpsi. Perubahan dalam overhead tetap dala persediaan adalah tetap sama dengan selisih di antara kedua laba. Perubahan ini dapat dihtung melalui perkalian tariff overhead tetap dengan perubahan total unit persediaan awal dan akhir (yang merupakan selisih antara produksi dan penjualan). Selisih antara laba bersih menurut perhitungan biaya absorpsi dan perhitungan biaya variable dapat dinyatakan sebagai berikut:
2. Evaluasi Kinerja
Evaluasi kinerja adalah suatu metode dan proses penilaian dan pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang atau unit-unit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Evaluasi kinerja merupakan cara yang paling adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerja.
Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan dan juga untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama untuk mengetahui bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan supaya segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan tercapai. Hasil evaluasi kinerja individu dapat dimanfaatkan untuk banyak penggunaan.
• Peningkatan kinerja
• Pengembangan SDM
• Pemberian kompensasi
• Program peningkatan produktivitas
• Program kepegawaian
• Menghindari perlakuan diskriminasi
Tujuan Penilaian kinerja
Ada pendekatan ganda terhadap tujuan penilaian prestasi kerja sebagai berikut:
1. Tujuan Evaluasi
Hasil-hasil penilaian prestasi kerja digunakan sebagai dasar bagi evaluasi reguler terhadap prestasi anggota-anggota organisasi, yang meliputi:
a. Telaah Gaji. Keputusan-keputusan kompensasi yang mencakup kenaikan merit-pay, bonus dan kenaikan gaji lainnya merupakan salah satu tujuan utama penilaian prestasi kerja.
b. Kesempatan Promosi. Keputusan-keputusan penyusunan pegawai (staffing) yang berkenaan dengan promosi, demosi, transfer dan pemberhentian karyawan merupakan tujuan kedua dari penilaian prestasi kerja.
2. Tujuan Pengembangan
Informasi yang dihasilkan oleh sistem penilaian prestasi kerja dapat digunakan untuk mengembangkan pribadi anggota-anggota organisasi, yang meliputi:
a. Mengukuhkan Dan Menopang Prestasi Kerja. Umpan balik prestasi kerja (performance feedback) merupakan kebutuhan pengembangan yang utama karena hampir semua karyawan ingin mengetahui hasil penilaian yang dilakukan.
b. Meningkatkan Prestasi Kerja. Tujuan penilaian prestasi kerja juga untuk memberikan pedoman kepada karyawan bagi peningkatan prestasi kerja di masa yang akan datang.
c. Menentukan Tujuan-Tujuan Progresi Karir. Penilaian prestasi kerja juga akan memberikan informasi kepada karyawan yang dapat digunakan sebagai dasar pembahasan tujuan dan rencana karir jangka panjang.
d. Menentukan Kebutuhan-Kebutuhan Pelatihan. Penilaian prestasi kerja individu dapat memaparkan kumpulan data untuk digunakan sebagai sumber analisis dan identifikasi kebutuhan pelatihan.
Faktor-Faktor Penilaian kinerja
Tiga dimensi kinerja yang perlu dimasukkan dalam penilaian prestasi kerja, yaitu:
1. Tingkat kedisiplinan karyawan sebagai suatu bentuk pemenuhan kebutuhan organisasi untuk menahan orang-orang di dalam organisasi, yang dijabarkan dalam penilaian terhadap ketidakhadiran, keterlambatan, dan lama waktu kerja.
2. Tingkat kemampuan karyawan sebagai suatu bentuk pemenuhan Kebutuhan organisasi untuk memperoleh hasil penyelesaian tugas yang terandalkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas kinerja yang harus dicapai oleh seorang karyawan.
3. Perilaku-perilaku inovatif dan spontan di luar persyaratan-persyaratan tugas formal untuk meningkatkan efektivitas organisasi, antara lain dalam bentuk kerja sama, tindakan protektif, gagasan-gagasan yang konstruktif dan kreatif, pelatihan diri, serta sikap-sikap lain yang menguntungkan organisasi.
3. Laporan Segmen
Laporan kontribusi laba dari berbagai aktivitas atau unit-unit lainnya dalam suatu organisasi disebut Pelaporan segmen (segmented reporting). Pelaporan segmen yang disusun berdasarkan kalkulasi biaya variable menghasilkan evaluasi dan keputusan yang lebih baik daripada yang disusun berdasarkan kalkulasi biaya absorpsi.Seorang manajer tentu ingin mengetahui profitabilitas dari masing-masing divisi, mana divisi yang menguntungkan dan mana yang merugi atau mungkin ada pabrik yang harus ditutup dan sebagainya.
Para manajer perlu mengetahui profitabilitas berbagai segmen dalam suatu perusahaan agar mampu membuat berbagai evaluasi dan keputusan yang berhubungan dengan sksistensi berkelanjutan setiap segmen, tingkat pendanaan, dan seterusnya.
Segmen (segment) adalah entitas yang berorintasi laba di dalam organisasi. Laporan segmen mampu menyediakan informasi yang berharga mengenai berbagai biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer segmen. Biaya yang dapat dikendalikan adalah biaya yang dapat dipengaruhi oleh manajer .
Laporan laba-rugi segmen yang menggunakan kalkulasi biaya variabel memiliki satu keistimewaan di samping laporan laba-rugi kalkulasi biaya variable yang telah disajikan sebelumnya. Beban tetap dipecah menjadi dua katagori:
- Beban tetap langsung
- Beban tetap umum
Bagian tambahan ini menyoroti biaya yang dapat dikendalikan lawan biaya yang tak dapat dikendalikan dan meningkatkan kemampuan manajer untuk mengevaluasi setiap kontribusi segmen terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan
Biaya variabel adalah Kalkulasi biaya yang menentukan bahwa yang termasuk biaya produksi adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel. Sedangkan BOP Tetap termasuk biaya periodik..
Manfaat Biaya Variable bagi Manajemen :
1. Biaya Variable sebagai Alat Perencanaan Lab
2. Biaya Variable sebagai Petunjuk Penentuan Harga Jual
3. Biaya Variable untuk Pengambilan Keputusan Manajemen
Biaya Absorption adalah Kalkulasi biaya yang menentukan bahwa yang termasuk biaya produksi adalah bahan langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik tetap maupun variabel.
Analisis dan Pembanding Perhitungan Biaya Variable dan Perhitungan Biaya Absorpstion
Perhitungn biya variable menekankan perbedaan antara biaya manufaktur variable dan tetap. Perhitungan biaya variable (variable costing) membebankan hanya biaya manufaktur variabwl ke produk. Biaya ini meliputi bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead variable. Overead tetap diperlakukan sebagai beban periode dan tidak disertakan dalam penentuan biaya produk. Dasar pemikiran untuk ini adalah bahwa overhead tetap merupakan biaya kapasitas, atau tetap ada dalam bisnis. Perhitungan biaya absorpsi (absorption costing) membebankan semua biaya manufaktur ke produk. Bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead tetap adalah hal-hal yang menentukan biaya produk. Jadi, menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead tetap dipandang sebagai biaya produk. Bukan biaya periode. Menurut metode ini, overhead tetap yang ditetapkan terlebih dulu dan tidak dibebankan sampa produk terjual. Dengan kata lain overhead tetap adalah biaya sebagai biaya prosuk atau periode menurut perhitungan biaya variable dan absorpsi. Akhir-akhr ini, perhitungan biaya absorpsi diisyaratkan untuk keperluan pelaporan eksternal.
Laporan Laba Rugi dan Analisis Rekonsiliasi
Karena biaya produk per unit merupakan dasar bagi penghitungan harga pokok penjualan, maka metode perhitungan biaya variable dan absorpsi dapat mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Perbedaan terjadi karena jumlah overhead tetap yang diakui sebagai beban pada kedua metode tersebut.
Hubungan laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut perhitungn biaya absorpsi berubah ketika hubungan antara produksi dan penjualan berubah. Apabila barang yang terjual lebih banyak dari yang diproduksi, maka laba menurut perhitungan biaya variable akan lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi. Menurut perhitungan biaya absorpsi, unit-unit yang keluar dari persediaan mengandung overhead tetap dari periode sebelumnya selain itu, unit-unit yang diproduksi dan dijual telah mengandung seluruh overhead tetap periode berjalan. Dengan demikian, jumlah beban overhead tetap menurut perhitungan biaya absorpsi lebih besar dari biaya overhead tetap periode berjalan sejumlah overhead tetap yang keluar dari persediaan. Oleh karenaitu, laba menurut perhitungan biaya variable lebih tinggi dari laba menurut perhitungan biaya absorpsi karena sejumlah overhead tetap mengalir keluar dari perssediaan awal.
Kunci untuk menjelaskan perbedaan di antara kedua laba tersebut adalah analisis arus overhead tetap. Perhitungan biaya variable selslu mengakui total overhead tetap periode sebagai beban. Di pihak lain, perhitungn biaya absorpsi hanya mengakui overhead tatap yang ada pada unit yang terjual. Apabila jumlah yang diproduksi berbeda dari yang terjual, overhead tetap akan mengalir ke luar atau kedalam persediaan. Apabila jumlah overhead tetap dalam persediaan meningkat, maka laba menurut perhitungan biaya absorpsi lebih besar daripada laba menurut perhitungn biaya varibel dengan menghitug kenaikan bersih. Apabila overhead tetap persediaan berkurang, maka laba menurut perhitungn biaya variable lebih besar daripada laba menurut perhtungan biaya absorpsi. Perubahan dalam overhead tetap dala persediaan adalah tetap sama dengan selisih di antara kedua laba. Perubahan ini dapat dihtung melalui perkalian tariff overhead tetap dengan perubahan total unit persediaan awal dan akhir (yang merupakan selisih antara produksi dan penjualan). Selisih antara laba bersih menurut perhitungan biaya absorpsi dan perhitungan biaya variable dapat dinyatakan sebagai berikut:
2. Evaluasi Kinerja
Evaluasi kinerja adalah suatu metode dan proses penilaian dan pelaksanaan tugas seseorang atau sekelompok orang atau unit-unit kerja dalam satu perusahaan atau organisasi sesuai dengan standar kinerja atau tujuan yang ditetapkan lebih dahulu. Evaluasi kinerja merupakan cara yang paling adil dalam memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerja.
Tujuan evaluasi kinerja adalah untuk menjamin pencapaian sasaran dan tujuan perusahaan dan juga untuk mengetahui posisi perusahaan dan tingkat pencapaian sasaran perusahaan, terutama untuk mengetahui bila terjadi keterlambatan atau penyimpangan supaya segera diperbaiki, sehingga sasaran atau tujuan tercapai. Hasil evaluasi kinerja individu dapat dimanfaatkan untuk banyak penggunaan.
• Peningkatan kinerja
• Pengembangan SDM
• Pemberian kompensasi
• Program peningkatan produktivitas
• Program kepegawaian
• Menghindari perlakuan diskriminasi
Tujuan Penilaian kinerja
Ada pendekatan ganda terhadap tujuan penilaian prestasi kerja sebagai berikut:
1. Tujuan Evaluasi
Hasil-hasil penilaian prestasi kerja digunakan sebagai dasar bagi evaluasi reguler terhadap prestasi anggota-anggota organisasi, yang meliputi:
a. Telaah Gaji. Keputusan-keputusan kompensasi yang mencakup kenaikan merit-pay, bonus dan kenaikan gaji lainnya merupakan salah satu tujuan utama penilaian prestasi kerja.
b. Kesempatan Promosi. Keputusan-keputusan penyusunan pegawai (staffing) yang berkenaan dengan promosi, demosi, transfer dan pemberhentian karyawan merupakan tujuan kedua dari penilaian prestasi kerja.
2. Tujuan Pengembangan
Informasi yang dihasilkan oleh sistem penilaian prestasi kerja dapat digunakan untuk mengembangkan pribadi anggota-anggota organisasi, yang meliputi:
a. Mengukuhkan Dan Menopang Prestasi Kerja. Umpan balik prestasi kerja (performance feedback) merupakan kebutuhan pengembangan yang utama karena hampir semua karyawan ingin mengetahui hasil penilaian yang dilakukan.
b. Meningkatkan Prestasi Kerja. Tujuan penilaian prestasi kerja juga untuk memberikan pedoman kepada karyawan bagi peningkatan prestasi kerja di masa yang akan datang.
c. Menentukan Tujuan-Tujuan Progresi Karir. Penilaian prestasi kerja juga akan memberikan informasi kepada karyawan yang dapat digunakan sebagai dasar pembahasan tujuan dan rencana karir jangka panjang.
d. Menentukan Kebutuhan-Kebutuhan Pelatihan. Penilaian prestasi kerja individu dapat memaparkan kumpulan data untuk digunakan sebagai sumber analisis dan identifikasi kebutuhan pelatihan.
Faktor-Faktor Penilaian kinerja
Tiga dimensi kinerja yang perlu dimasukkan dalam penilaian prestasi kerja, yaitu:
1. Tingkat kedisiplinan karyawan sebagai suatu bentuk pemenuhan kebutuhan organisasi untuk menahan orang-orang di dalam organisasi, yang dijabarkan dalam penilaian terhadap ketidakhadiran, keterlambatan, dan lama waktu kerja.
2. Tingkat kemampuan karyawan sebagai suatu bentuk pemenuhan Kebutuhan organisasi untuk memperoleh hasil penyelesaian tugas yang terandalkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas kinerja yang harus dicapai oleh seorang karyawan.
3. Perilaku-perilaku inovatif dan spontan di luar persyaratan-persyaratan tugas formal untuk meningkatkan efektivitas organisasi, antara lain dalam bentuk kerja sama, tindakan protektif, gagasan-gagasan yang konstruktif dan kreatif, pelatihan diri, serta sikap-sikap lain yang menguntungkan organisasi.
3. Laporan Segmen
Laporan kontribusi laba dari berbagai aktivitas atau unit-unit lainnya dalam suatu organisasi disebut Pelaporan segmen (segmented reporting). Pelaporan segmen yang disusun berdasarkan kalkulasi biaya variable menghasilkan evaluasi dan keputusan yang lebih baik daripada yang disusun berdasarkan kalkulasi biaya absorpsi.Seorang manajer tentu ingin mengetahui profitabilitas dari masing-masing divisi, mana divisi yang menguntungkan dan mana yang merugi atau mungkin ada pabrik yang harus ditutup dan sebagainya.
Para manajer perlu mengetahui profitabilitas berbagai segmen dalam suatu perusahaan agar mampu membuat berbagai evaluasi dan keputusan yang berhubungan dengan sksistensi berkelanjutan setiap segmen, tingkat pendanaan, dan seterusnya.
Segmen (segment) adalah entitas yang berorintasi laba di dalam organisasi. Laporan segmen mampu menyediakan informasi yang berharga mengenai berbagai biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer segmen. Biaya yang dapat dikendalikan adalah biaya yang dapat dipengaruhi oleh manajer .
Laporan laba-rugi segmen yang menggunakan kalkulasi biaya variabel memiliki satu keistimewaan di samping laporan laba-rugi kalkulasi biaya variable yang telah disajikan sebelumnya. Beban tetap dipecah menjadi dua katagori:
- Beban tetap langsung
- Beban tetap umum
Bagian tambahan ini menyoroti biaya yang dapat dikendalikan lawan biaya yang tak dapat dikendalikan dan meningkatkan kemampuan manajer untuk mengevaluasi setiap kontribusi segmen terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan
Tags
absorption,
akmen,
akuntansi,
biaya,
evaluasi kinerja,
laporan segmen,
manajemen,
variabel
07 April, 2011
PERENCANAAN AUDIT SIKLUS PRODUKSI
Siklus ini meliputi perencanaan serta pengendalian produksi dari jenis-jenis dn kuantitas barang yang akan diproduksi, tingkat persediaan yang akan dipertahankan, serta transaksi dan peristiwa yang berkaitan dengan proses pabrikasi. Transaksi yang terjadi dalam siklus ini disebut sebagai transaksi pabrikasi. Siklus produksi saling berkaitan dengan tiga siklus lain berikut ini: (1) siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai biaya overhead, (2) siklus jasa personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik, dan (3) siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi.
MATERIALITAS, RISIKO BAWAAN DAN PROSEDUR ANALITIKAL
Materialitas
Alokasi materialitas pada rekening-rekening yang dipengaruhi oleh transaksi-transaksi dalam siklus ini sangat beraneka ragam tergantung pada berbagai faktor. Hal utama yang harus diperhatikan dalam menilai pengalokasian materialitas adalah penentuan besarnya salah saji yang akan bisa mempengaruhi keputusan para pemakai laporan keuangan. Pertimbangan kedua adalah berkaitan dengan adanya biaya untuk mendeteksi kekeliruan. Audit atas persediaan termasuk observasi keberadaan persediaan dan pengauditan penilaian persediaan,biasanya cukup mahal. Oleh sebab itu auditor biasanya mengalokasikan materialitas dalam jumlah yang besar untuk mengaudit persediaan dengan tidak melebihi jumlah yang ia yakini akan mempengaruhi analisis yang dibuat pemakai laporan keuangan
Risiko Bawaan
Risiko bawaan untuk terjadinya salah saji dalam laporan keuangan yang diakibatkan oleh transaksi-transaksi persedian untuk perusahaan perhotelan relatif rendah,karena persediaan bukan merupakan bagian yang material dalam kegiatan utama perusahan. Sebaliknya untuk perusahaan manufaktur atau perusahaan dagang risiko pengendalian persediaan seringkali ditetapkan padatingkat maksimun atau mendekati maksimum.
Persediaan dapat dinilai sebesar atau mendekati maksimum karena alasan-alasan berikut:
• Volume transaksi pembelian, pabrikasi, dan penjualan yang mempengaruhi akun-akun ini biasanya tinggi, sehingga meningkatkn peluang terjadinya salah saji.
• Seringkali terjadi masalah yang diperdebatkan seputar identifikasi, pengukuran, dan alokasi biaya-biaya yang dapat dimasukkan dalam persediaan.
• Sangat beragamnya jenis persediaan kadang-kadang mengharuskan digunakannya prosedur khusus untuk menentukan kuantitas persediaan.
• Persediaan seringkali disimpan di berbagai lokasi, sehingga menambah kesulitan yang berhubungan dengan penyelenggaraan pengendalian fisik terhadap pencurian dan kerusakan, serta akuntansi yang tepat untuk barang dalam perjalanan di antara lokasi-lokasi itu.
• Sangat beragamnya jenis persediaan mungkin saja menimbulkan masalah khusus dalam menentukan kualitas dan nilai pasarnya.
• Persediaan sangat rentan terhadap pembusukan, keusangan, dan faktor-faktor lain, dan dengan demikian mempengaruhi ketepatan penilaian persediaan itu.
• Persediaan mungkin dijual dengan perjanjian retur atau pembelian kembali.
Prosedur Analitikal
Prosedur analitis adalah prosedur yang murah dan bisa memberi sinyal kepada auditor tentang adanya salah saji potensial. Apabila laporan keuangan yang akan diaudit menunjukan kecendrungan meningkatnya laba kotor dibarengi dengan adanya kenaikan dalam jumlah hari perputaran persediaan,maka ada kemungkinan persedian telah lebih saji. Hal ini akan mengisyaratkan auditor untuk lebih meningkatkan perhatiannya akan keberadan dan penilaian persediaan.
PERTIMBANGAN PENGENDALIAN INTERN SIKLUS PRODUKSI DAN PERSONALIA
Manajemen harus memperhatikan risiko yang dibahas dalam bagian terdahulu mengenai risiko inheren dan merancang pengendalian yang sesuai. Pemantauan pengendalian oleh manajemen dalam siklus produksi meliputi umpan balik dari pelanggan tentang kualitas produk dan ketepatan waktu pengiriman, serta penggunaan auditor internal untuk menilai efektivitas pengendalian biaya, akurasi data biaya, dan pengendalian fisik atas persediaan.
AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PROSES PRODUKSI
Dokumen dan Catatan yang Umum
• Perintah produksi (production order)
• Laporan kebutuhan bahan (material requirement report)
• Slip pengeluaran bahan (materials issue slip)
• Tiket waktu (time ticket)
• Tiket perpindahan (move ticket)
• Laporan aktivitas produksi harian (daily production activity report)
• Laporan produksi yang sudah selesai (completed production report)
• Buku besar pembantu atau file induk persediaan (catatan persediaan perpetual)
• File induk biaya standar (standard cost master file)
• File induk persediaan bahan baku (raw materials inventory master file)
• File induk persediaan barang dalam proses (work-in-process inventory master file)
• File induk persediaan barang jadi (finished goods inventory master file)
Fungsi-fungsi dan Pengendalian Terkait
1) Memulai Produksi:
• Merencanakan dan mengendalikan produksi. Teknologi informasi, atau cara lain, harus digunakan untuk mempertanggungjawabkan seluruh perintah produksi yang dikeluarkan dan pencatatan akhirnya tentang biaya pabrikasi. Departemen perancanaan dan pengendalian produksi juga bertanggung jawab untuk memantau penggunaan bahan dan tenaga kerja, serta memantau kemajuan perintah produksi sampai diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi.
• Mengeluarkan Bahan Baku. Sebuah ikhtisar harian mengenai penggunaan bahan biasanya disiapkan sebagai salah satu komponen laporan aktivitas produksi harian yang digunakan dalam perencanaan dan pengendalian produksi.
2) Perpindahan Barang:
• Memroses barang dalam produksi. Teknologi informasi, atau cara lain, harus mencocokkan tiket waktu dan tiket perpindahan dengan pencatatan akhirnya tentang biaya pabrikasi.
• Memindahkan pekerjaan yang sudah selesai ke barang jadi. Gudang barang jadi menerima tanggung jawab atas barang jadi dengan menandatangani tiket perpindahan akhir.
• Melindungi persediaan. Proteksi terhadap barang dalam proses dapat dilakukan dengan mengawasi daerah produksi oleh penyelia dan petugas keamanan pabrik, pemberian label pada barang, dan penggunaan tiket perpindahan bernomor urut untuk mengendalikan perpindahan barang dalam proses di sekitar pabrik.
3) Mencatat Transaksi Pabrikasi dan Persediaan:
• Menentukan dan mencatat biaya produksi. Fungsi ini menyangkut:
Membebankan bahan langsung dan tenaga kerja langsung ke barang dalam proses
Mengenakan overhead pabrikasi ke barang dalam proses.
Memindahkan biaya di antara departemen produksi (menurut sistem biaya proses)
Memindahkan biaya produksi yang sudah selesai ke barang jadi.
Pengendalian tambahan terhadap pencatatan biaya pabrikasi meliputi:
Pengecekan independen atas kesesuaian ayat jurnal untuk pengalokasian biaya pabrikasi ke barang dalam proses dengan data mengenai penggunaan bahan dan tenaga kerja dalam laporan aktivitas produksi harian.
Pengecekan independen atas kesesuaian ayat jurnal untuk transfer barang dalam proses ke barang jadi dengan data yang ada dalam laporan produksi yang sudah selesai.
• Mempertahankan kebenaran saldo-saldo persediaan. Mempertahankan kebenaran saldo-saldo persediaan melibatkan tiga aktivitas. Pertama, harus dilakukan perhitungan periodik yang independen terhadap persediaan yang ada di tangan dan pembandingan dengan kuantitas yang tercatat menurut catatan persediaan perpetual. Kedua, harus dilakukan pengecekan periodik yang independen terhadap kesesuaian antara jumlah dollar yang tercatat dalam file induk persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi dengan masing-masing akun pengendali buku besar umum. Ketiga, melalui inspeksi periodik terhadap kondisi persediaan dan penelaahan manajemen atas laporan aktivitas persediaan, penyesuaian untuk menurunkan nilai tercatat persediaan ke nilai pasar harus dilakukan bila diperluka
Siklus ini meliputi perencanaan serta pengendalian produksi dari jenis-jenis dn kuantitas barang yang akan diproduksi, tingkat persediaan yang akan dipertahankan, serta transaksi dan peristiwa yang berkaitan dengan proses pabrikasi. Transaksi yang terjadi dalam siklus ini disebut sebagai transaksi pabrikasi. Siklus produksi saling berkaitan dengan tiga siklus lain berikut ini: (1) siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai biaya overhead, (2) siklus jasa personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik, dan (3) siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi.
MATERIALITAS, RISIKO BAWAAN DAN PROSEDUR ANALITIKAL
Materialitas
Alokasi materialitas pada rekening-rekening yang dipengaruhi oleh transaksi-transaksi dalam siklus ini sangat beraneka ragam tergantung pada berbagai faktor. Hal utama yang harus diperhatikan dalam menilai pengalokasian materialitas adalah penentuan besarnya salah saji yang akan bisa mempengaruhi keputusan para pemakai laporan keuangan. Pertimbangan kedua adalah berkaitan dengan adanya biaya untuk mendeteksi kekeliruan. Audit atas persediaan termasuk observasi keberadaan persediaan dan pengauditan penilaian persediaan,biasanya cukup mahal. Oleh sebab itu auditor biasanya mengalokasikan materialitas dalam jumlah yang besar untuk mengaudit persediaan dengan tidak melebihi jumlah yang ia yakini akan mempengaruhi analisis yang dibuat pemakai laporan keuangan
Risiko Bawaan
Risiko bawaan untuk terjadinya salah saji dalam laporan keuangan yang diakibatkan oleh transaksi-transaksi persedian untuk perusahaan perhotelan relatif rendah,karena persediaan bukan merupakan bagian yang material dalam kegiatan utama perusahan. Sebaliknya untuk perusahaan manufaktur atau perusahaan dagang risiko pengendalian persediaan seringkali ditetapkan padatingkat maksimun atau mendekati maksimum.
Persediaan dapat dinilai sebesar atau mendekati maksimum karena alasan-alasan berikut:
• Volume transaksi pembelian, pabrikasi, dan penjualan yang mempengaruhi akun-akun ini biasanya tinggi, sehingga meningkatkn peluang terjadinya salah saji.
• Seringkali terjadi masalah yang diperdebatkan seputar identifikasi, pengukuran, dan alokasi biaya-biaya yang dapat dimasukkan dalam persediaan.
• Sangat beragamnya jenis persediaan kadang-kadang mengharuskan digunakannya prosedur khusus untuk menentukan kuantitas persediaan.
• Persediaan seringkali disimpan di berbagai lokasi, sehingga menambah kesulitan yang berhubungan dengan penyelenggaraan pengendalian fisik terhadap pencurian dan kerusakan, serta akuntansi yang tepat untuk barang dalam perjalanan di antara lokasi-lokasi itu.
• Sangat beragamnya jenis persediaan mungkin saja menimbulkan masalah khusus dalam menentukan kualitas dan nilai pasarnya.
• Persediaan sangat rentan terhadap pembusukan, keusangan, dan faktor-faktor lain, dan dengan demikian mempengaruhi ketepatan penilaian persediaan itu.
• Persediaan mungkin dijual dengan perjanjian retur atau pembelian kembali.
Prosedur Analitikal
Prosedur analitis adalah prosedur yang murah dan bisa memberi sinyal kepada auditor tentang adanya salah saji potensial. Apabila laporan keuangan yang akan diaudit menunjukan kecendrungan meningkatnya laba kotor dibarengi dengan adanya kenaikan dalam jumlah hari perputaran persediaan,maka ada kemungkinan persedian telah lebih saji. Hal ini akan mengisyaratkan auditor untuk lebih meningkatkan perhatiannya akan keberadan dan penilaian persediaan.
PERTIMBANGAN PENGENDALIAN INTERN SIKLUS PRODUKSI DAN PERSONALIA
Manajemen harus memperhatikan risiko yang dibahas dalam bagian terdahulu mengenai risiko inheren dan merancang pengendalian yang sesuai. Pemantauan pengendalian oleh manajemen dalam siklus produksi meliputi umpan balik dari pelanggan tentang kualitas produk dan ketepatan waktu pengiriman, serta penggunaan auditor internal untuk menilai efektivitas pengendalian biaya, akurasi data biaya, dan pengendalian fisik atas persediaan.
AKTIVITAS PENGENDALIAN – TRANSAKSI PROSES PRODUKSI
Dokumen dan Catatan yang Umum
• Perintah produksi (production order)
• Laporan kebutuhan bahan (material requirement report)
• Slip pengeluaran bahan (materials issue slip)
• Tiket waktu (time ticket)
• Tiket perpindahan (move ticket)
• Laporan aktivitas produksi harian (daily production activity report)
• Laporan produksi yang sudah selesai (completed production report)
• Buku besar pembantu atau file induk persediaan (catatan persediaan perpetual)
• File induk biaya standar (standard cost master file)
• File induk persediaan bahan baku (raw materials inventory master file)
• File induk persediaan barang dalam proses (work-in-process inventory master file)
• File induk persediaan barang jadi (finished goods inventory master file)
Fungsi-fungsi dan Pengendalian Terkait
1) Memulai Produksi:
• Merencanakan dan mengendalikan produksi. Teknologi informasi, atau cara lain, harus digunakan untuk mempertanggungjawabkan seluruh perintah produksi yang dikeluarkan dan pencatatan akhirnya tentang biaya pabrikasi. Departemen perancanaan dan pengendalian produksi juga bertanggung jawab untuk memantau penggunaan bahan dan tenaga kerja, serta memantau kemajuan perintah produksi sampai diselesaikan dan dipindahkan ke barang jadi.
• Mengeluarkan Bahan Baku. Sebuah ikhtisar harian mengenai penggunaan bahan biasanya disiapkan sebagai salah satu komponen laporan aktivitas produksi harian yang digunakan dalam perencanaan dan pengendalian produksi.
2) Perpindahan Barang:
• Memroses barang dalam produksi. Teknologi informasi, atau cara lain, harus mencocokkan tiket waktu dan tiket perpindahan dengan pencatatan akhirnya tentang biaya pabrikasi.
• Memindahkan pekerjaan yang sudah selesai ke barang jadi. Gudang barang jadi menerima tanggung jawab atas barang jadi dengan menandatangani tiket perpindahan akhir.
• Melindungi persediaan. Proteksi terhadap barang dalam proses dapat dilakukan dengan mengawasi daerah produksi oleh penyelia dan petugas keamanan pabrik, pemberian label pada barang, dan penggunaan tiket perpindahan bernomor urut untuk mengendalikan perpindahan barang dalam proses di sekitar pabrik.
3) Mencatat Transaksi Pabrikasi dan Persediaan:
• Menentukan dan mencatat biaya produksi. Fungsi ini menyangkut:
Membebankan bahan langsung dan tenaga kerja langsung ke barang dalam proses
Mengenakan overhead pabrikasi ke barang dalam proses.
Memindahkan biaya di antara departemen produksi (menurut sistem biaya proses)
Memindahkan biaya produksi yang sudah selesai ke barang jadi.
Pengendalian tambahan terhadap pencatatan biaya pabrikasi meliputi:
Pengecekan independen atas kesesuaian ayat jurnal untuk pengalokasian biaya pabrikasi ke barang dalam proses dengan data mengenai penggunaan bahan dan tenaga kerja dalam laporan aktivitas produksi harian.
Pengecekan independen atas kesesuaian ayat jurnal untuk transfer barang dalam proses ke barang jadi dengan data yang ada dalam laporan produksi yang sudah selesai.
• Mempertahankan kebenaran saldo-saldo persediaan. Mempertahankan kebenaran saldo-saldo persediaan melibatkan tiga aktivitas. Pertama, harus dilakukan perhitungan periodik yang independen terhadap persediaan yang ada di tangan dan pembandingan dengan kuantitas yang tercatat menurut catatan persediaan perpetual. Kedua, harus dilakukan pengecekan periodik yang independen terhadap kesesuaian antara jumlah dollar yang tercatat dalam file induk persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi dengan masing-masing akun pengendali buku besar umum. Ketiga, melalui inspeksi periodik terhadap kondisi persediaan dan penelaahan manajemen atas laporan aktivitas persediaan, penyesuaian untuk menurunkan nilai tercatat persediaan ke nilai pasar harus dilakukan bila diperluka
Langganan:
Postingan (Atom)